Di depan orang awam, orang ga banyak tahu tentang Geotechnical Engineering atau bahasa Indonesianya Rekayasa Geoteknik. So, what is it anyway?
According to www.wikipedia.org, geotechnical engineering is an area of civil engineering concerned with the rock and soil that civil engineering systems are supported by. Knowledge from the fields of geology, material science and testing, mechanics, and hydraulics are applied by geotechnical engineers to safely and economically design foundations, retaining walls, and similar structures. Environmental concerns in relation to groundwater and waste disposal have spawned a new area of study called geoenvironmental engineering where biology and chemistry are important.
Some of the unique difficulties of geotechnical engineering are the result of the variability and properties of soil. Boundary conditions are often well defined in other branches of civil engineering, but with soil, clearly defining these conditions can be impossible. The material properties and behavior of soil are also difficult to predict due to the variability of soil and limited investigation. This contrasts with the relatively well defined material properties of steel and concrete used in other areas of civil engineering. Soil mechanics, which define the behavior of soil, is complex due to stress-dependent material properties such as volume change, stress–strain relationship, and strength.
Yeah, in geotechnical engineering, we study about soil and rock (read : earth) as supporting system to building we want to erect. Hehehehe..
Kerjanya susah, field work, berpanas-panasan, mungkin banget harus keluar masuk hutan. Kenapa mesti keluar masuk hutan? Lha, sebelum suatu daerah bakal berubah fungsi jadi pemukiman, perkantoran, atau bahkan pusat perdagangan, dulunya kan daerah itu berupa lahan kosong dimana pohon dan tanaman bisa tumbuh. (udah ngalamin pas KP, dimana gw ada di tengah hutan bersama para surveyor lainnya bermodalkan GPS saja!) Tapi bagi gw, geoteknik itu suatu hal yang menarik! Tidak ada satu hal yang pasti ketika kita berhadapan dengan tanah, dengan alam, dengan bumi itu sendiri.
Pas Kerja Praktek (catatan : gw KP di Proyek Bendungan Jatigede, Sumedang yang direncanakan selesai pada tahun 2013), gw melihat dan belajar banyak hal tentang ilmu rekayasa geoteknik. Menurut dosen Rekayasa Fondasi gw, tingkat kesulitan geoteknik pada pembangunan bendungan adalah 100 dari skala 100. Actually, I got what I want to learn, see, and experience from this project. Mumpung progresnya baru jalan 8%, karena ribet nyiapin lahannya untuk menerima beban bendungan yang besar banget! Gw jadi tahu jenis batuan keras ada macem-macem. Ada claystone yang sifatnya unik. Kalau kena air, dia berubah jadi kayak bubur. Kalau masi terlindung oleh tanah di atas dan sekelilingnya,dia keras banget. Kalo udah kena udara luar (weathering), lama-lama dia akan berubah jadi serpihan seperti pasir. (jadi bingung, dia itu tanah atau batuan??) Melalui proyek ini, gw semakin yakin Tuhan membawa gw ke arah ini.. Menjadi seorang Geotechnical Engineer.
Jadi inget ketika gw mulai berdoa saat gw bingung menentukan tema TA yang akan gw ambil. Januari 2009, gw udah mulai mikir-mikir tuh. Kan tema TA juga bakal menentukan gw bakal kerja apa setelah lulus nanti. Baru juga mulai semester 6, tapi gw tau dari HMS 2005 kalau pemiliihan tema TA itu akan dimulai setelah UTS selesai. Well, mulai deh gw mikir. Pilihan gw cuma tinggal 2 dari 5. Manajemen Rekayasa Struktur (MRK) atau Rekayasa Geoteknik (geotek).
Biasanya, cewe-cewe bakal milih struktur atau MRK. Geotek sih kurang laku di kalangan cewe-cewe. Kenapa? Seperti gw bilang tadi, kerjaannya field work! Gw tipe orang yang ga suka kerja di belakang meja. Ngantuk bawaannya.. Hahahaha.. So, gw lebih milih field work deh. Kalo gw milih MRK, nanti kerjanya di belakang meja sih, tapi kan kalo jadi project manager, mesti ke lapangan juga. Kalo gw milih geotek, 90% kerjaan gw pasti ada di lapangan!
Nyokap sih awalnya gak setuju. Alasannya??
1. Gak ngerti kalo orang geotek bisa ngehasilin banyak duit.. Katanya struktur ama MRK lebih cepet tajir.. Sapa bilaaannnnggggg?? Setau gw, dosen paling tajir di teknik sipil ITB itu dari geotek loohhhhh…
2. Field work mulu..
3. Kerjaan lo ga bisa diliat orang.. Orang liatnya gedung, bukan fondasinya. Hahahaha..
Gw sih tetep kekeuh! Akhirnya nyokap mengizinkan gw ambil tema geoteknik setelah gw memberikan argumen di nomor 1… Dosen paling tajir di teknik sipil ITB itu dosen geotek. Satu lagi alasan gw, dosen Rekayasa Fondasi gw itu tetangga om gw di Jakarta. Om gw itu tinggal di salah satu kawasan perumahan mewah di Jakarta Utara! Hahahahahahaha..
Emang sih kerjaan orang-orang geotek ga keliatan, ga bisa dinikmati, tapi ada yang esensi tentang itu.. Gw dapet peneguhan setelah gw beli 1 buku tentang Rekayasa Fondasi berjudul Foundation Design : Principles and Practices karangan Donald P. Coduto. Kenapa?? Karena di bab 1, paragraf pembukanya tertulis seperti ini :
The Parable of the Wise and Foolish Builders
I will show you what is like who comes to me and hears my words and puts them into practice. He is like a man building a house, who dug down deep and laid the foundation on rock. When a flood came, the torrent struck that house but could not shake it, because it was well built. But the one who hears my words and does not put them into practice is like a man who built a house on the ground without a foundation. The moment the torrent struck that house, it collapsed and its destruction was complete.
Luke 6 : 47-49 (NIV)
Yup, it’s from the bible! Gila, buku teks desain fondasi gw tertulis itu!! Udah jelas lah maksud kata-kata Yesus melalui ayat ini. Emang sih, di ayat ini Yesus menjelaskan kehidupan yang bersandar pada Firman Tuhan. Orang yang mendengar Firman Tuhan dan melaksanakannya, akan menjadi kuat dan teguh. Dia tidak mudah hancur ketika badai kehidupan datang. Dia akan tetap berdiri karena dia berdiri dengan Tuhan sebagai batu karangnya.
Di kehidupan nyata, di kehidupan gw sebagai calon geotechnical engineer, ini kepake banget. Bayangin deh.. Gimana caranya suatu bangunan bisa berdiri tanpa ada sebuah fondasi yang sanggup menopang beban-beban bergerak dan beban bangunan itu sendiri? Ga bisa deh!
Fondasi juga mengajarkan gw 1 hal yang penting. Kerendahan hati. Lho, kok bisa? Coba, mana ada yang memuji, “wah, fondasinya bagus! kuat ya, nahan bangunan segede gini..” Kalo yang muji-muji arsitek, project manager, atau ahli strukturnya, buaannnyyyaaakkkk!!! Yang namanya fondasi, kan ga keliatan. Ga akan diperhatiin orang. Proses desainnya, mayan boros karena safety factornya minimal 2,5. (Misal, beban yang bekerja 100 ton, fondasi harus kuat menahan 250 ton) Kita berhadapan sama alam yang ga bisa ditebak. So, geotechnical engineer harus bisa menciptakan desain fondasi dengan memperkirakan beban-beban apa aja yang mungkin muncul. Giliran bangunan roboh, pasti yang disalahin itu orang geotek duluan, “fondasinya jelek!” atau “fondasinya ga kuat nih!!” begh.. Parah deh.. Tapi tetep kan, semua subjurusan di teknik sipil butuh ilmu geoteknik. Jalan raya?? Butuh orang geoteknik untuk memastikan tanahnya bagus, kuat menahan beban kendaraan, dan kalau jelek, tanahnya harus diperbaiki, ditingkatkan kualitasnya.. Bendungan?? Difficultynya 100 dari skala 100! (excavation, slope stability, soil improvement, dll) Struktur?? Apalagi! Selama bangunan masi dibutuhkan di bumi ini, orang masi butuh bikin fondasi.
Udah tau gitu, kenapa gw tetep milih geotek? 1 hal aja alasannya.. MENARIK!! Butuh hikmat, cara berpikir, segudang pengalaman kalau mau jadi ahli geoteknik. Apalagi Tuhan udah ngebawa gw ke jalan ini. Selama Tuhan ada bersama gw, gw ga takut!
Geotechnical engineering rocks!! Hahahahaha..
-
-
Berpose di depan Jatigede Dam’s diversion tunnel
-
-
pas di depan Jatigede Dam’s diversion tunnel
-
-
Surveying untuk memasang patok-patok tempat sample tanah yang akan diambil (harus ngebabat hutan dulu ih!)
-
-
-
-
Ini yang namanya claystone
-
-
Perbaikan tanah dengan shotcrete, anchor, dan wire mesh